BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan sumber hukum bagi agama Islam. sebagai pegangan hidup seorang muslim sehingga mendapat ke-Ridlaan dari Allah SWT. untuk itu diperlukan sebuah keilmuan untuk mempelajari atau mengkaji ilmu al-Qur’an yang disebut dengan Ulumul Qur’an.
Salah satu persoalan dalam Ulumul Al-Qur’an yang masih diperdebatkan sampai sekarang adalah kategori muhkam dan mutasyabih. Telaah dan perdebatan diseputar masalah ini telah mengisi khasanah keilmuan Islam, terutama menyangkut penafsiran Al-Qur’an. Perdebatan itu tidak saja melibatkan sarjana-sarjana muslim itu sendiri akan tetapi sarjana-sarjana Barat pun ikut mewarnainya.
Para Pemakalah berusaha menguraikan sedikit pengetahuan tentang muhkam dan mutasyabih ini meskipun dengan segala kekurangannya. Oleh karena itu, kami harapkan tegur sapa akrab dari para Pembaca berupa kritik ataupun saran untuk kemajuan Pemakalah kedepannya, terutama kepada Dosen Pembimbing.
BAB II
PMBAHASAN
A. Pengertian
Muhkam berasal dari kata Ihkam yang bearti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan secara terminology muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain.
kata mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Tasyahabad Isttabaha berarti dua hal yang masing-masing menyerupai yang lainnya. Sedangkan secara terminology Al Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelasmaksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, atau maknanya yang tersembunyi, dan memerlukan keterangan tertentu, atau Allah yang mengetahuinya.
Sedangkan menurut pengertian terminologi (istilah), muhkam dan mutasyabih diungkapkan para ulama sebagai berikut :
1. Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sedangkan ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah SWT., seperti kedatangan hari kiamat, keluarnya dajal, dan huruf-huruf muqaththa’ah. Definisi ini dikemukakan oleh kelompok ahlussunnah.
2. Ayat-ayat Muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
3. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak. Definisi ini dikemukakan ibnu ‘Abbas.
4. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat shalat, kekhusuan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan shaum wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
5. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam pemaknaannya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat lain.
6. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui tanpa pentakwilan, sedangkan ayat mutasyabih memerlukan pentakwilan untuk mengetahui maksudnya.
7. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafadz-lafadznya tidal berulang-ulang, sedangkan ayat mutasyabih sebaliknya,
8. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefarduan, ancaman, dan janji, sedangkan ayat mutasyabih berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.
9. Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebah riwayat dari ‘Ali Bin abi Thalib dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat metasyabih perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (qasam), dan yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
10. ‘Abdullah bin Hamid mengeluarkan sebuah riwayat dari Adh-dhahak bin Al-Muzahim yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang menghapus, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang dihapus.
11. Ibn Abi Hatim mengeliarkan sebuah riwayat dari muqatil bin Hayyan yang menyatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih adalah seperti alif lam mim, alif lam ra’, dan alif lam mim ra’.
12. Ibn abi Hatim menyatakan bahwa ‘Ikrimah, Qatadah bin Du’amah, dan yang lainnya menyatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus diimani dan diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang harus diimani, tetapi tidal harus diamalkan.
Melihat pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa inti muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas tidak dan samar. Masuk kedalam kategori muhkam adalah nash (kata yang menunjukan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas, dan memang untuk makna itu ia sebutkan) dan zhahir (makna lahir). Masuk ke dalam kategori mutasyabih ini adalah mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil), musykil, dan mubham (ambigus).
Dalam Al-Qur’an, memang disebutkan kata-kata muhkam dan mutasyabih. Pertama, lafal muhkam , terdapat dalam Q.S. Hud [11]: 1
ايتُـه. كِتبٌ اُحْكِمَتْ...
Terjemahan: Sebuah Kitab yang disempurnakan (dijelaskan) ayat-ayatnya....
Kedua, lafal mutasyabih terdapat dalam Q.S. Zumar [39]: 23
... كِتَابًا مُتَشَـابِهًا مَّـثَانِيْ....
Terjemahan : …(yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutasyabih) lagi berulang-ulang....
B. Pembagian Mutasyabih dalam Kalimat
Menurut Ar-Raghib pembagian mutasyabih dalam kalimat ada tiga macam, yaitu : mutasyabih dari segi lafadz., mutasyabi dari segi kakna, dan mutasyabih dari segi makna dan lafadz.
1. Mutasyabih dari segi lafadz
Mutasyabih dari segi lafadz terdiri dari dua bagian :
Dikembalikan pada lafadz-lafadz yang asing.
Dikembalikan pada kalimat yang tersusun. Yaitu, kalimat yang diringkas (An-Nisa :3), karena disederhanakan ( As-Syuraa :11 ), dan bisa juga karena nuzhum kalimat ( Al-Kahfi :1 ).
2. Mutasyabih dari segi makna
Penggambarannya tentang Allah SWT. dan tentang hari kiamat. Penggambaran itu tidak dapat kita bayangkan, karena jiwa kita tidak dapat menggambarkannya selama kita belum menginderakannya.
3. Mutasyabih dari segi lafadz dan makna
Sedangkan Mutasyabih dari segi makna dan lafadz ada lima macam :
a. Dari segi kuantitas, seprti umum dan khusus. Contohnya :
فَاقْتُلوا المُشْرِكِينَ
“ maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu “ ( At-Taubah (9) : 5 ).
b. Dari segi tatacara, seperti wajib dan sunah. Contohnya :
فَا نْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاءِ
“Maka kawinilah wanita-wanita yang lain yang kamu senangi “. (An-Nisa (4) :3)
c. Dari segi waktu, seperti nasikh dan mansukh. Contohnya :
التَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
“ bertaqwalah kepada Allah sebebar-benar taqwa kepadanya “. ( Ali-Imran (3) : 102 )
d. Dari segi perkara-perkara yang diturunkan di dalamnya. Contohnya :
وَلَيسَ البِرُّبِاَن تأ تُوا البُيُوتَ مِن ضُهُورِهَا
“ Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya “. (Al-Baqarah (2) : 189 )
Contoh lain :
اَنَّمَ النَّسِيءُ زِيَادَةٌ في الكُفرِ
“ Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. ( At-Taubah (9) : 37 )
e. Dari segi syarat-syaratsahnya suatu perbuatan dan yang merusaknya, seperti syarat sahnya shalat, syarat sahnya nikah.
C. Hikmah Keberadaan Ayat Muhkan dan Ayat Mutasyabih dalam Al-Qur’an
Hikmah Ayat Muhkam ialah sebagai berikut:
1. Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka.
2. Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.
3. Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.
4. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.
Di antara hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabih di dalam Al-Qur’an dan ketidakmampuan akal untuk mengetahui adalah sebagai berikut :
1. Memperlihatkan kelemahan akal manusia.
Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah SWT. memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya.
Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah SWT. karena kesadarannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.
2. Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih.
Pada penghujung surat Ali-Imran ayat 7, Allah SWT. menyebutkan wa ma yadazdakkaru illa ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengotak-atil ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya, memberikan pujian pada orang-orang yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzigh qulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharafkan ilmu laduni.
3. Memberikan pemahaman abstrak-ilahiyah kepada manusia melalui pengamalan inderawi yang biasa disaksikannya.
Sebagaimana dimaklumi bahwa pemahaman diperoleh manusia tatkala ia diberi gambaran inderawi terlebih dahulu. Dalam kasus sifat-sifat Allah, sengaja Allah memberikan gambaran fisik agar manusia dapat lebih mengenali sifat-sifat-Nya. Bersamaan dengan itu, Allah menegaskan bahwa diri-Nya tidak sama dengan hamba-Nya dalam hal pemilikan anggota badan.
D. Sikap Para Ulama Terhadap Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih
1. Madzhab Salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah). Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an. Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik yang berasal dari ulama mutaqaddimin
2. Madzhab Khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Mereka umumnya berasal dari kalangan ulama muta’akhirin.
E. Perbedaan Ayat Muhkam dan Mutasyabih
1. Muhkam
a. Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya
b. Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui secara langsung
c. Muhkam ialah lafal yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tertibnya tepat, dan tidak musykil, karena pengertiannya masuk akal, sehingga dapat diamalkan karena tidak dinasakh.
2. Mutasyabih
a. Mutasyabih hanya Allah-lah yang mengetahui akan maksudnya.
b. Mutashabih baru dapat diketahui dengan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.
c. Mutasyabih ialah lafal-Al-Quran yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat sehingga menimbulkan kesulitan cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu amalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimonopoli Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
Muhkam adalah ayat yang diketahui maksudnya baik secara nyata mupun melalui takwil. Sedangkan Mutasyabihat adalah ayay yang hanya Allah saja yang mengetahui maksudnya baik secara nyata maupun melalui takwil seperti datangnya hari kiamat, keluarnya dajjal dan sebagainya.
Pendapat ulama tentang adanya ayat muhkam dan mutasyibah antara lain:
Menurut madzhab ulama salaf adalah orang-orang yang mempercayai dan meyakini serta menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Menurut madzhab khalaf yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang lain dengan dzat allah dan mereka pula disebut madzhab takwil.
Hikmah adanya ayat muhkam dan mutasyabihat adalah sebagai ajang uji coba oleh Allah atas keimanan dan ketaqwaan para hamba-hambanNya.
Daftar Pustaka
Chirzin, Muhammad. 2003. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.
Hasbi. Teungku M. 2001. Ilmu-Ilmu Al-Quran. Jakarta: PT Pustaka Rizki Putra.
Husein. Sayyid Muhammad. 2000. Ulumul Quran. Jakarta: PT Lentera.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’i. 2000. Ulumul Qur’an I. Bandung: CV. Pustaka setia.
Wahid. Ramli Abdul. 1993. Ulumul Quran. Jakarta: Rajawali Pers.
Selasa, 24 Mei 2011
Minggu, 22 Mei 2011
sepulih planet baru
Sepuluh planet baru "mengambang" melalui galaksi ditemukan tim astronom internasional yang dipimpin ilmuwan Selandia Baru. Kesepuluh planet berukuran Jupiter itu merupakan penemuan baru dalam sejarah Galaksi Bima Sakti. Penemuan menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan ilmuwan komputer Universitas Massey, Wellington, Australia.
"Mereka planet raksasa di galaksi kita, sekitar ukuran Jupiter. Ternyata selam ini kesepuluh planet tersebut berada di suatu tempat di antara kita dan bintang-bintang," kata Ian Bond, seorang Astro Fisika, belum lama ini. Planet-planet itu diyakini berjarak sekitar dua-pertiga dari pusat galaksi, berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya.
Jika mereka terlihat dengan mata telanjang, planet-planet itu akan menjadi gelap gulita, karena mereka tidak memancarkan cahaya. Planet baru ini bisa saja dikeluarkan dari sistem surya karena pertemuan gravitasi dekat dengan planet lain atau bintang. Kemungkinan besar planet baru tumbuh dari keruntuhan bola gas dan debu, tapi tak memiliki massa untuk menyalakan bahan bakar dan menghasilkan cahaya bintang sendiri.
Temuan itu menyebabkan para peneliti beraharap planet mengambang bebas seukuran Bumi yang dapat mendukung kehidupan. Meskipun hingga saat ini kemungkinan itu kecil, planet semacam itu belum terdeteksi
"Mereka planet raksasa di galaksi kita, sekitar ukuran Jupiter. Ternyata selam ini kesepuluh planet tersebut berada di suatu tempat di antara kita dan bintang-bintang," kata Ian Bond, seorang Astro Fisika, belum lama ini. Planet-planet itu diyakini berjarak sekitar dua-pertiga dari pusat galaksi, berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya.
Jika mereka terlihat dengan mata telanjang, planet-planet itu akan menjadi gelap gulita, karena mereka tidak memancarkan cahaya. Planet baru ini bisa saja dikeluarkan dari sistem surya karena pertemuan gravitasi dekat dengan planet lain atau bintang. Kemungkinan besar planet baru tumbuh dari keruntuhan bola gas dan debu, tapi tak memiliki massa untuk menyalakan bahan bakar dan menghasilkan cahaya bintang sendiri.
Temuan itu menyebabkan para peneliti beraharap planet mengambang bebas seukuran Bumi yang dapat mendukung kehidupan. Meskipun hingga saat ini kemungkinan itu kecil, planet semacam itu belum terdeteksi
Langganan:
Postingan (Atom)